Baito (バイト)

Winter 2012. Bingung mau memilih judul apa, yang cocok dengan apa kasus ini, setidaknya judul yang saat ini dipakai bisa menjadi keyword untuk tulisan tidak penting ini. Baito atau kerja partime biasa dijalani teman teman , baik mahasiswa jepang maupun mahasiswa asing, banyak alasan kenape mereka baito: ada yang mencari tambahan uang saku, ada yang memang menjadi jalan satu-satunya untuk hidup. Pernah denger dari temen bahwasanya pemerintah jepang yang memberikan beasiswa kepada mahasiswa itu bukan uang yang diberikan cuma-cuma, mendapat jatah bulanan dan bisa makan enak? tapi beasiswa disini adalah = pinjaman uang untuk sekolah. Mereka yang mendapatkan beasiswa harus mengembalikan ke pemerintah nanti setelah mereka mendapatlan pekerjaan dan mempunyai gaji. Bisa dibayangkan mereka memang harus bekerja sambil sekolah ( kelas, ngelab,dll).

Ada seorang teman dari china, satu kelas di kelas internasional, sebuat saja namanya derpina, kata teman yang lain dia masuk program internasional ini tanpa ada scholarship, alias dengan biaya sendiri. beberapa teman menyarankan kenapa dia tidak melamar beasiswa ke pemerintahnya, karena rata2 orang dari indonesia yang sekolah disini menggunakan beasiswa dinas atau pemerintah jepang (mext). Menurut dia, untuk china memang persaingannya ketat dan susah mendapatkan beasiswa, bisa jadi satu kursi beasiswa dipake untuk dua orang, karena banyaknya peminat…*glek, padahal satu kursi untuk satu orang aja sudah mepet, apalagi ini hanya menggunakan separuh kursi beasiswa.

Suatu malam, karena ada kerjaan mendadak dari pak guru jadi pulang ke rumahnya pukul 22:00, belum makan malam dan sepertnya malas untk belanja sayur serta olah2 di dapur. berencana untuk mampir di kaizuka shokudo saja untuk makan malam, disana ada makanan murah dan seafood. makan sampai di kaizuka 貝事しょくどpukul 22:30 dan mengambil makanan ikan saba serta miso soup, lumayan buat dinner dibawah 500yen. Kebiasaan restoran disini, setelah selesai menyerahkan nampan beserta mangkok dan gelas sisa ke pencucian. Setelah berkemas-kemas untuk meninggalkan shokudo sambil menyerahkan nampan, tak sengaja lihat siapa yang menerima nampannya…dan sepertnya saya kenal…Oh…ternyata teman saya yang dari china itu, rupanya dia baito di shokudo sini, mungkin dia tidak mengenali saya, karena saya memakai penutup muka serta pakai topi hangat. ada baiknya juga dia tidak melihat saya,..

Dari sini saya bersyukur sangat, setidaknya tidak menggunakan separuh beasiswa, ataupun mengembalikan pinjaman uang kuliah, serta harus berbaito untuk bertahan hidup. berbaito pun, saya baito di lab dengan ikut penelitian pak guru sesuai bidang yang saya angkat untuk master thesis. Jadi bagaimanapun susahnya codingan java, android atau instalasi alat di kebon tetap bersyukur dan bersemangat..

Jadi bagaimanapun susahnya codingan java, android atau instalasi alat di kebon tetap bersyukur dan bersemangat..

がんばりましょう

This entry was posted in General. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>